Friday, November 18, 2011

Matahari

Senja itu aku bertemu dengan mu
Saat pisau masih menyisakan bercak darah di hati
Kamu seperti dawai gitar yang dipetik oleh seorang maestro
Begitu merdu, hingga gemanya mampu menghapus butiran-butiran embun di pelupuk mata

Seperti air yang mengaliri anak sungai
Kamu menelusup kisi-kisi hati
Meskipun aku berusaha menahan alirannya
Tapi tanganku tak mampu
Hingga aku membiarkannya
menembus setiap celah diantara batu kali

Saturday, April 3, 2010

Wanita-wanita Tangguh di Sekeliling Saya

Tujuan dari tulisan ini bukan karena saya ingin membandingkan para wanita yang saya kenal, tapi lebih karena saya ingin wanita yang merasa dirinya lemah, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, bisa terinspirasi dengan kisah mereka. Untuk menjaga nama baik, eh maksudnya untuk mencegah hal-hal yang tidak enak dikemudian hari dan demi melindungi identitas (walaupun tanpa saya lindungi, mereka sepertinya bisa melindungi diri sendiri) sebaiknya saya menggunakan nama samaran saja ya? Oke, selamat menikmati…

Monday, March 10, 2008

Still Use Thiz Old Method, To Make U Happy?

Senin, 10 Maret 2008

"Apakah ini Noni?" begitu bunyi sms yang baru ku terima sore ini. "Ah, siapa lagi sic? Hari gini, masih berteka-teki!", males, ku coba tak mempedulikan sms itu.

Beberapa menit berlalu. Ku tengok sekelilingku, orang-orang hilir mudik dengan keperluannya masing-masing di bandara Internasional ini. Ku lirik cameraman "judes" ku. Asik sendiri dengan hapenya. Iseng, ku balas sms gelap itu, "apakah ini orang yang suka berteka-teki silang?" Beberapa menit kemudian sang pemilik nomor hape 0881xxxxx, itu pun membalas sms ku. Kami pun saling berbalas sms jahil.

Saturday, January 3, 2004

Curahan Hati Seorang Wanita Kedua

3 Januari 2004, pukul 15.08

Aku tidak tahu apakah harus gembira atau bersedih. Mendengar bahwa mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, harusnya aku gembira, bahagia. Itu berarti impianku menjadi kekasih satu-satunya segera terwujud. Namun kenyataannya aku malah sedih. Karena aku ragu, apakah benar hal itu sungguh-sungguh aku inginkan? Entahlah, aku tidak yakin.

Sebenarnya aku merasa ia tidak menginginkan perpisahan itu. Ia mengatakan mengapa hal ini terjadi ketika ia sedang sendiri. Sendiri? Lantas aku dianggapnya apa? Walaupun akhir-akhir ini aku hampir tak pernah menghubungi nomor telepon tantenya atau ponsel adiknya, seharusnya dia tahu bagaimana perasaanku terhadapnya. Seberapa besar cintaku padanya.